Sembuh

Untuk kamu yang pernah berkisah sekaligus penyakit di pilihan hidup yang sulit, membuatnya menjadi pelik adalah hobimu pada saat itu.

Mari kita sederhanakan saja;

Menjadikanku sembuh bukanlah tugasmu, tapi karena kamu sembuhku semakin mustahil.

Berapa kali sudah, lewat setengah dari nafas yang berhembus hanya berlafas namamu. Hampir lelah aku menyusuri pikiranku dan setiap dindingnya berisi kebodohanku. Tentang kamu yang setiap waktu menyalakan api dalam hati.

Bukan tugasmu menyembuhkanku;

Aku sudah bersahabat dengan rasa takut itu, rasa takut paling besar yang pernah ingin membunuhku:

Kehilanganmu…

Teruntuk kamu yang hari ini meniatkan hati hendak meminang wanita lain selain daripadaku, jiwamu masih milikku…

Sebab sembuhku akan menjadi hutangku padamu…

Aku akan membayarnya, sampai bertemu lagi di permainan yang lainnya 🙂

Tanya

Biar aku eja, setiap kata yang bermakna warna. Sebagian luntur dilekang masa tapi tak jemu indah kusangka. Aku berdiri di tengah halaman berpadangkan bahagia berlangitkan mendung. Di ujung alinea pembuka yang membentuk paragraf lalu bercerita. Sedang apa kamu di sana? Di halaman mana kamu berada? Di titik atau di koma keberapa kita akan bertemu? Atau kita melulu pada tanda baca tanya saja? Biar kuserukanmu pada bagianku, kutulis kalimat bertuliskan namamu. Agar maknamu tak hanya aku yang rasa —

Aku Rindu

Aku meyakini bahwa tidak ada yang benar-benar hilang.

Mereka yang tiada hanya sedang tidak berada di tempatnya.

Aku percaya bahwa tidak semua cerita bisa kita tuntaskan.

Pada bagianmu selesai, tapi di alinea lain sedang dimulai cerita tanpa koma.

Kita semua harus puas dengan keberadaan diri sendiri yang mungkin bosan dengan kegiatan yang itu-itu saja, atau bahkan berakhir dengan tanda tanya.

Atau mulai memaksakan diri kembali ke masa itu dan kembali mengingat…

Kamu kan belum tua, kumpulkan memori yang ada. Jangan kalah menjadi tua tapi kosong. Sudah otak kau kosongkan, hati apalagi? Mayat hidup bukan.

Biasakanlah.

Apa lagi?

Ayo kita mulai menyalakan api… aku harap tubuhmu bisa menikmatinya…aku membangun cerita ini begitu sedap mungkin lebih baik dari sekedar bercinta, ini tentang patah hati.

Kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan.

Aku biasa melihatmu

Aku biasa menggenggam tanganmu

Aku biasa bercanda dengan mu

Aku biasa tersenyum dan memaksa hati gembira menerima chat darimu.

Satu-satunya orang yang membuatku percaya bahwa tidak akan ada lagi tangan yang sanggup menggenggamku.

Hingga pada suatu hari, pada saatnya dia memilih untuk hilang…

Aku masih berusaha menghidupkannya, setiap hari.

Dia masih bersamaku, raga yang sama.

Tapi keindahannya mati oleh ambisi.

Aku gagal, aku gagal membunuh binatang liar dalam dirinya… dia yang memeluk cintaku lebih erat kemudian membunuhku perlahan oleh perasaan yang bayang akan kehilangan jati dirinya dengan cekat…

Aku rindu…

Menari

Teruntuk langit yang terbakar demi keindahan senja dipenghujung hari, jadilah saksi, kami gila dan basah bersama siluetmu.
.
.
.
Menarilah sayang…
Biar aku mengerti bahwa irama hidup tidak pernah semembosankan drama ftv…
Tentu aku nantinya akan tahu setiap lekuk tubuhmu mempunyai arti…
Biar katanya dosa, nilai mana yang dibenarkan ketika kita sesama penikmat keindahan?
Kau ke kanan aku ke kiri, aku berputar kau diam, tidak pernah bertemu namun saling berpegangan…
Aku mengagumi matamu, si pencuri harap, si coklat yang tidak ramah, karenanya sesekali aku jatuh hanya untuk runtuh, kemudian terbangun di teralis besi yang kau sebut penjara…
Aku terus menari sambil menutup mata… menyentuhmu tanpa melihat, tapi hatiku bisa…
Siapa yang jahat? Aku yang luka, kau yang menjerit sakit? Ohhh ternyata kakimu terinjak?
Aku kira kau sedang akting dan berperan menjadi aku.
.

Kamu

Untuk kamu yang hilangnya tidak pernah tuntas.

Untuk kamu yang rindunya tak pernah terbalas.

Bergegaslah, sesuatu menunggu di depan persimpangan…

Mulailah dengan menebar kesempatan

Barangkali, sesuatu akan lebih tegas jika kamu berani melangkah

Lebih tajam menggoreskan pena cerita…

Untuk kamu yang senyumnya terlengkung dalam gelap..

Tarik sedikit caramu memaksa harapan

Tidak cukupkah kamua bercerita pada orang-orang?

Berharap mereka amin kan ceritamu, padahal kamu sendiri tahu sebelum doamu mengudara hati mu pun ragu…

Untuk kamu yang memaku langkah di ujung waktu…

Tidak lelahkah kamu mendikte Tuhan?

Menunggu Tuhan lelah mendengarnya bukan caramu…

Jangan karena kamu punya Tuhan, kamu lupa cara menjadi manusia…

Untuk kamu yang masih menunggu ragu menjadi haru…

Yakinlah tetap, hatimu tak pernah berdusta tetang keyakinan… melangkahlah…